
Siklon Tropis Senyar di Selat Malaka merupakan siklon tropis langka yang terbentuk sangat dekat dengan Khatulistiwa dan membawa hujan ekstrim, banjir besar, serta longsor yang meluas di Sumatra bagian utara dan kawasan sekitarnya pada akhir November 2025. Walaupun kekuatan anginnya tergolong lemah hingga sedang menurut skala siklon tropis, kombinasi durasi hujan yang lama, pergerakan yang lambat, dan lokasi yang tidak biasa menjadikan Senyar sebagai peristiwa cuaca yang bisa disebut anomali dalam kurun waktu lebih dari satu abad.
Siklon tropis membutuhkan lima kondisi lingkungan utama untuk dapat terbentuk. Pertama, suhu permukaan laut harus sangat hangat, minimal 26,5°C hingga kedalaman tertentu, berfungsi sebagai “bahan bakar” utama melalui penguapan yang menghasilkan energi panas dan kelembapan. Kedua, atmosfer harus lembap dan tidak stabil, memungkinkan udara panas naik dengan cepat membentuk awan badai (kumulonimbus). Ketiga, sistem harus berada setidaknya 5 derajat dari khatulistiwa agar efek Coriolis—gaya putar akibat rotasi Bumi—cukup kuat untuk memulai rotasi badai. Keempat, diperlukan low wind shear (perubahan arah dan kecepatan angin vertikal yang rendah) agar struktur badai tetap terorganisir. Terakhir, harus ada gangguan cuaca awal (seperti palung tekanan rendah) yang memicu naiknya udara di awal proses.
Proses pembentukan siklon tropis berkembang melalui beberapa tahapan yang saling menguatkan. Proses dimulai ketika udara hangat dan lembap di atas laut menguap dan naik, menciptakan area bertekanan rendah di permukaan. Saat udara naik dan mendingin, uap air mengembun menjadi awan, melepaskan panas laten yang justru mempercepat gerakan naik udara tersebut. Udara dari sekitar area bertekanan tinggi kemudian terdorong masuk untuk mengisi kekosongan ini, menciptakan siklus konveksi yang berkelanjutan. Udara yang masuk ini mulai berputar akibat efek Coriolis. Ketika rotasi menguat, badai menjadi lebih terstruktur, membentuk dinding mata (eyewall) yang intens dan area tenang di pusatnya yang disebut “mata” siklon. Siklus ini terus berlanjut dan menguat selama pasokan air hangat dan lembap dari laut tersedia.
Anomali Pembentukan Siklon Senyar
Senyar berawal dari daerah tekanan rendah dan gangguan tropis (sering diidentifikasi sebagai bibit siklon di Teluk Benggala yang kemudian masuk ke Selat Malaka) yang mulai terorganisasi di atas perairan hangat Selat Malaka sekitar 22–25 November 2025. Kondisi atmosfer saat itu—termasuk suhu permukaan laut yang hangat, kelembapan tinggi, dan pola sirkulasi yang mendukung—pembentukan siklon di wilayah yang biasanya tidak memungkinkan terjadinya siklon tropis.
Badan meteorologi di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara melaporkan bahwa Senyar mencapai intensitas siklon tropis dengan kecepatan angin maksimum berorde 35–45 knot (sekitar 65–85 km/jam), sehingga secara klasifikasi angin tidak termasuk siklon sangat kuat. Namun lokasi pembentukannya di Selat Malaka membuatnya istimewa, karena catatan historis menunjukkan hampir tidak pernah ada siklon tropis yang terbentuk di selat sempit dekat Khatulistiwa ini sejak akhir abad ke‑19. BMKG menyatakan bahwa kejadian ini disebabkan oleh kombinasi langka dari faktor-faktor dinamika atmosfer global, seperti kondisi La Niña, negative Indian Ocean Dipole (IOD) yang menghangatkan perairan setempat, dan interaksi gelombang atmosfer tertentu yang secara bersamaan menciptakan kondisi yang mendukung pembentukan siklon di lokasi yang tidak biasa tersebut.
BMKG dan berbagai pusat meteorologi menekankan bahwa pembentukan siklon tropis di Selat Malaka adalah fenomena yang sangat jarang karena wilayah ini berada sangat dekat dengan Khatulistiwa, di mana gaya Coriolis terlalu lemah untuk biasanya mendukung rotasi siklon. Dalam catatan klimatologis, kawasan ini lebih sering mengalami badai lokal dan gelombang pengaruh siklon jauh (remote forcing) daripada siklon yang benar‑benar lahir di selat itu sendiri.
Para ahli mengaitkan kelangkaan ini dengan fakta bahwa biasanya, gangguan tropis yang terbentuk di sekitar sana akan melemah sebelum sempat berputar menjadi siklon karena kurangnya gaya pembelokan rotasi. Oleh karena itu, terjadinya Senyar memunculkan pertanyaan baru tentang peran variabilitas iklim regional dan perubahan kondisi latar (background state) samudra–atmosfer terhadap kemungkinan siklon langka di zona dekat Khatulistiwa di masa mendatang.
Lintasan dan perkembangan
Setelah terbentuk di timur Selat Malaka dekat pantai Aceh, Senyar bergerak sangat lambat ke arah barat dan barat‑laut dengan kecepatan maju hanya sekitar beberapa kilometer per jam, sehingga daerah yang sama terus‑menerus terpapar hujan lebat dan awan konvektif. Sistem ini kemudian menguat menjadi siklon tropis sebelum mendarat (landfall) di wilayah pesisir utara Sumatra pada sekitar 26 November, lalu bergerak di sepanjang pantai utara–barat Sumatra sambil perlahan melemah akibat interaksi dengan daratan dan topografi pegunungan.
Interaksi sirkulasi Senyar dengan bentuk muka bumi Sumatra dan perairan sekitarnya mengarahkan aliran udara lembap terus menerus menuju Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan juga Pantai Timur Semenanjung Malaysia. Pada saat yang sama, analisis cuaca menunjukkan adanya sistem lain di kawasan yang membantu menahan kumpulan awan hujan di antara Sumatra dan Semenanjung, sehingga durasi hujan lebat menjadi jauh lebih panjang daripada badai biasa yang bergerak cepat melintas.
Angin horizontal dan kerusakan lokal
Dari sisi angin permukaan (horizontal wind), Senyar menimbulkan angin kencang hingga gempuran angin kencang (gale) di perairan Selat Malaka bagian utara dan wilayah pesisir Aceh serta Sumatra Utara, tetapi kecepatan angin rata‑rata tetap di bawah kategori siklon besar yang biasanya menumbangkan bangunan kuat. Walaupun demikian, kondisi angin kencang dan gelombang tinggi mengganggu aktivitas pelayaran, penyeberangan kapal kecil, serta nelayan tradisional di perairan Selat Malaka dan laut sekitarnya.
Di darat, angin yang bertiup terus‑menerus pada tanah yang sudah jenuh air menyebabkan pohon tumbang, jaringan listrik terganggu, serta kerusakan atap dan bangunan ringan, khususnya di daerah terbuka dan pesisir. Pola kerusakan angin bersifat setempat—lebih besar di kawasan yang berhadapan langsung dengan arah angin utama siklon dan di lokasi yang tidak terlindung oleh topografi atau vegetasi lebat.
Gelombang, pasang, dan banjir pesisir
Berbeda dengan siklon besar di samudra lepas yang dikenal karena storm surge tinggi, elevasi muka laut akibat Senyar di Selat Malaka lebih terbatas tetapi tetap berpotensi menimbulkan banjir rob lokal di pesisir rendah. Kombinasi angin kencang yang bertiup searah garis pantai dan pasang laut yang sedang atau tinggi dapat mendorong air laut ke daratan, memperparah genangan di kota pelabuhan dan perkampungan pantai.
Daerah pesisir yang memiliki sistem drainase buruk atau sudah tertekan oleh aliran sungai dari hulu sangat rentan, karena air dari laut dan dari darat dapat bertemu dan menutup jalur aliran keluar. Dalam konteks Senyar, banjir pesisir ini menjadi salah satu faktor yang memperluas area genangan, terutama di kawasan delta dan estuari yang rendah dan padat penduduk.
Hujan lebat, banjir dan Longsor
Dampak paling menonjol dari Senyar adalah curah hujan ekstrem yang turun dalam waktu singkat namun terus‑menerus selama beberapa hari. Beberapa stasiun melaporkan bahwa akumulasi hujan harian mendekati atau melampaui total hujan normal satu bulan, misalnya di Langsa, Aceh, yang tercatat menerima sekitar 380 mm hujan dalam satu hari.
Curah hujan sebesar ratusan hingga lebih dari seribu milimeter dalam beberapa hari membuat sungai meluap, tanggul jebol, dan jaringan drainase kota tidak mampu mengalirkan air secara cepat. Akibatnya terjadi banjir luas di Aceh, Sumatra Utara, sebagian Sumatra Barat, serta wilayah‑wilayah di Malaysia dan Thailand yang ikut menerima suplai uap air dari sistem Senyar.
Di daerah perbukitan dan pegunungan, tanah yang terus dipenuhi air hujan menjadi tidak stabil dan memicu longsor serta banjir bandang di banyak titik. Material longsor berupa tanah, batu, dan kayu menimpa permukiman, menutup jalan, serta memutus akses ke desa‑desa terpencil sehingga menyulitkan proses evakuasi dan distribusi bantuan.
Laporan awal dari media internasional dan lembaga nasional menyebutkan ratusan korban jiwa di Sumatra, jutaan penduduk terdampak, dan lebih dari satu juta orang terpaksa mengungsi akibat banjir dan longsor yang dipicu Senyar. Jika digabungkan dengan korban di negara lain di sekitar Selat Malaka, jumlah kematian yang terkait dengan badai ini mencapai lebih dari seribu jiwa, menjadikannya salah satu bencana hidrometeorologi terparah di Asia Tenggara dalam beberapa tahun terakhir.
