
Masih terngiang hingga saat ini suara sakti yang terus bergemuruh di Negeri ini. Apa itu? tentu saja EmBeGe atau yang paling populer dengan Makan Bergizi Gratis. Program ini telah berjalan setahunan, akan tetapi masih mengandung kontroversi yang tidak berkesudahan. Program yang pertama digaungkan ketika debat Pilpres 2024 lalu ini dianggap oleh Presiden Prabowo sebagai ajang dalam rangka meningkatkan gizi anak-anak secara nasional. Akan tetapi program ini terus menjadi polemik yang tiada hentinya, mengapa demakian?, ya tentu saja karena banyak mengandung masalah secara teknis hingga penyelenggaraan yang tidak sesuai ekspektasi. Mari terlebih dahulu kita lihat Polemik yang terjadi.
Kercaunan MBG di awal Program
Program MBG ini menghasilkan berbagai polemik, mulai dari awal pelaksanaan hingga saat ini. Masalah awal yang dihasilkan menyangkut tentang kelalaian petugas teknis yang ada di dapur, dimana teknik pengawetan makanan hingga timing dari pendistribusian yang tidak mengotak, sehingga terjadi kerusakan makanan sebalum dikonsumsi. Parahnya lagi didapatkannya kasus keracunan yang sempat menggemparkan di penjuru Negeri. Sultan HB X bahkan ikut mengomentari kejadian keracunan ini. Beliau manganggap bahwa pelaksanaan dari teknisi di Dapur perlu bekerja lebih baik lagi untuk mengatasi hal yang fatal seperti ini.
Setelah terjadinya polemik di awal ini, barulah beberapa bulan kemudian Kepala BGN berencana merekrut satu lagi teknisi MBG dengan basic ilmu pangan atau teknologi hasil pertanian. Hingga kebijakan ini dilaksanakan, apakah secara keseluruhan telah terselesaikan, tentu saja belum, bahkan muncul kembali polemik yang lebih baru hingga lebih dahsyat.
Isu Korupsi Berjamaah
Isu lain yang muncul dari program ini adalah adanya suara tentang korupsi berjamaah. Korupsi yang dimaksud di sini adalah mulai dari efisiensi dana secara mandiri, hingga mark up dana MBG. Kejadian ini telah memaksa berbagai pihak melakukan kajian hingga penyelidikan secara independent. Hasilnya adalah banyak dari Dapur MBG ini secara teknis dianggap telah melanggar metode hingga aturan main dari pelsaksanaan yang dikenakan pada program ini. Bahkan ada beberapa dari Dapur telah mendapatkan SP 1 hingga penghentian operasional. Pada lokasi lain juga bahkan terjadi sengketa diantara masyarakat, terkait dugaan mark up dana yang terindikasi dari ketidak sesuaian antara makanan yang diberikan dengan dana yang diglontorkan oleh pemerintah. Alhasil, didapatkan berbagai penyegelan langsung oleh masyarakat.
Adanya isu ini tentu saja memberikan pukulan telak bagi pemerintah. Indikasi yang terlihat dari isu ini adalah adanya miss perhitungan pada bagian awal perencanaan program ini. Dugaan lain yang menguat adalah adanya perhitungan yang sengaja tidak dihitung dengan baik oleh pemerintah sendiri. Setelah isu ini muncul, apakah polemik MBG ini telah selesai? ternyata ada hal yang masyarakat luput.
Apa yang dilupakan semua orang dari MBG?
Masyarakat saat ini hanya memandang dan melihat MBG dari pembengkakan anggaran hingga masalah teknis seperti keracunan dan korupsi. Selain itu pembelaan pemerintah hanya terbatas pada Pencipataan lapangan kerja dari MBG , akan tetapi tahukah kita masalah yang tidak pernah kita pertanyakan dari program ini?. Masalah yang tidak pernah kita pertanyakan adalah, impact dari MBG. Makan Bergizi Gratis ini memiliki target utama adalah pemenuhan gizi dari target program, siapa itu? ya tentu saja anak-anak Indonesia. Lalu impact yang dimaksud itu apa ya? ya tentu saja gizi dari target itu sendiri. Pernah kah kita bertanya, apakah pemerintah tahu telah tercapainya peningkatan gizi anak-anak bangsa dengan suplai makanan bergizi gratis yang telah didapatkan. Pernahkah kita mendengar bahwa pemerintah telah menguji peningkatan kecerdasan otak anak-anak bangsa setelah mengkonsumsi makanan bergizi versi Prabowo ini?. Jika apa yang saya maksud ini tidak direncanakan oleh pemerintah, bahkan sengaja tidak direncanakan, maka ini akan menjawab semua tuduhan liar yang ada di masyarakat. Tuduhan yang saya maksudkan adalah mulai dari program MBG hanya sebagai program Politik untuk tujuan politik lain. Bahkan ada anggapan bahwa MBG ini menjadi salah satu ajang pemenuhan janji lapangan kerja yang telah dijanjikan saat kampanye dulu. What???? Padahal lapangan kerja yang dibutuhkan oleh masyarakat adalah lapangan kerja permanen yang bisa memberikan mereka tunjangan hidup hingga hari tuanya. Bukan lapangan kerja musiman, atau lima tahunan yang bisa saja hilang jika tuannya kalah dalam pertarungan akhir.
end.

