
Gambar ilustrasi
Nusa Tenggara Barat (NTB) adalah daerah dengan keindahan alam yang luar biasa, tetapi juga menyimpan kerentanan tinggi terhadap bencana alam. Gempa bumi Lombok tahun 2018 menjadi pengingat pahit: ribuan rumah hancur, ratusan korban jiwa berjatuhan, dan ribuan lainnya harus mengungsi. Sayangnya, pola yang berulang terlihat jelas: pemerintah dan masyarakat baru bergerak setelah korban berjatuhan.
Kematian sering terjadi bukan hanya karena bencana itu sendiri, tetapi karena minimnya sistem evakuasi dan peringatan dini. Saat gempa Lombok 2018, banyak korban meninggal karena tertimpa bangunan yang tidak tahan gempa. Jika ada sistem peringatan dini dan jalur evakuasi yang jelas, angka korban bisa ditekan.
Contoh nyata: di Jepang, masyarakat sudah terbiasa dengan simulasi evakuasi gempa. Bangunan dibangun dengan standar tahan gempa, dan masyarakat tahu ke mana harus lari. NTB harus belajar dari praktik ini, bukan sekadar menunggu korban baru bertindak.
Contoh Nyata di Lapangan
- Gempa Lombok 2018: 564 korban jiwa, lebih dari 400 ribu orang mengungsi, ribuan rumah hancur. Banyak korban meninggal karena tertimpa bangunan tidak tahan gempa.
- Banjir di Bima (2021): Ribuan rumah terendam, puluhan ribu warga terdampak. Infrastruktur drainase dan tanggul terbukti tidak memadai.
- Apel Gelar Pasukan 2025: Pemeriksaan sarana evakuasi menunjukkan masih ada keterbatasan logistik dan peralatan di beberapa kabupaten.
Perlunya Pemetaan Daerah Rawan
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah pengecekan dan pemetaan daerah rawan bencana. Banyak wilayah di NTB berada di jalur sesar aktif dan rawan gempa. Desa-desa di Lombok Utara misalnya, masih menyimpan trauma karena rumah mereka roboh akibat gempa. Tanpa pemetaan yang jelas, masyarakat tetap tinggal di zona berbahaya tanpa perlindungan memadai.
Perbaikan Infrastruktur
Infrastruktur NTB masih rapuh. Banyak sekolah, rumah sakit, dan rumah warga tidak memenuhi standar bangunan tahan gempa. Akibatnya, ketika bencana datang, bangunan justru menjadi “kuburan massal”. Perlu ada program renovasi dan pembangunan ulang dengan standar ketahanan bencana.
Contoh di lapangan: setelah gempa Lombok, beberapa sekolah dibangun kembali dengan konsep temporary learning space (ruang belajar darurat). Namun, banyak yang sifatnya sementara dan tidak berkelanjutan. Padahal, anak-anak berhak belajar di ruang yang aman.
Pengujian Berkala
Selain pembangunan, pengujian berkala terhadap infrastruktur sangat penting. Jembatan, bendungan, dan gedung publik harus diuji secara rutin agar tidak roboh ketika bencana datang. Sayangnya, di NTB sering kali pengujian hanya dilakukan setelah ada kerusakan.
Contoh: beberapa jembatan di Lombok rusak parah setelah gempa, padahal sebelumnya sudah menunjukkan tanda-tanda retak. Jika ada inspeksi rutin, kerusakan bisa dicegah lebih awal.
Belajar dari Luka Lama
NTB tidak boleh lagi mengulang kesalahan masa lalu: menunggu korban baru bertindak. Bencana adalah keniscayaan, tetapi korban jiwa bisa dicegah dengan pemetaan, pencegahan, perbaikan, dan pengujian berkala.
Opini ini bukan sekadar kritik, melainkan ajakan untuk bergerak. NTB harus membangun sistem penanggulangan bencana yang proaktif, bukan reaktif. Karena setiap nyawa yang hilang adalah kehilangan besar bagi bangsa.
